
dijual nih... harga Rp. 4.300.000,- negoAcer Aspire One
Spek:
- Intel Atom 1.6Ghz
- DDR 1Gb
- HDD SATA 160GB
- wifi
- CardReader
- Modem
- Camera
- 10 inci
- Driver
- Colour Blue Black
- baru pakai 2 bulan
Apa yang tertuang di sini semata ingatku padanya. Tuhanku Karena Kau yang buat hidup, mati, atau apapun, Menjadi satu makna, Pengabdian dalam mengagumiMu Untuk kagumi diriMu sendiri..Untuk hati yang tidak pernah mati
Phytoestrogen
Soybeans contain isoflavones called genistein and daidzein, which are one source of phytoestrogens in the human diet. Since most naturally occurring estrogenic substances show only weak activity, it is doubtful that normal consumption of foods that contain these phytoestrogens would provide sufficient amounts to elicit a physiological response in humans.[citation needed]
Plant lignans associated with high fiber foods such as cereal brans and beans are the principal precursor to mammalian lignans which have an ability to bind to human estrogen sites. Soybeans are a significant source of mammalian lignan precursor secoisolariciresinol containing 13–273 µg/100 g dry weight.[39] Another phytoestrogen in the human diet with estrogen activity is coumestans, which are found in beans, split-peas, with the best sources being alfalfa, clover, and soybean sprouts. Coumestrol, an isoflavone coumarin derivative is the only coumestan in foods.
Soybeans and processed soy foods do not contain the highest "total phytoestrogen" content of foods. A study in which data were presented on an as is (wet) basis per 100 g and per serving found that food groups with decreasing levels of total phytoestrogens per 100 g are nuts and oilseeds, soy products, cereals and breads, legumes, meat products, various processed foods that may contain soy, vegetables, and fruits.
In men
Because of the phytoestrogen content, some studies indicate that there is an inverse correlation between soybean ingestion and testosterone in men. For this reason, they may be protected against the development of prostate cancer.
In women
A 2001 lierature review suggested that women with current or past breast cancer should be aware of the risks of potential tumor growth when taking soy products, based on the effect of phytoestrogens on breast cancer cell growth in animals.
A 2006 commentary reviewed the relationship with soy and breast cancer. They stated that soy may prevent breast cancer, but cautioned that the impact of isoflavones on breast tissue needs to be evaluated at the cellular level in women at high risk for breast cancer.
In infant formula
There are some studies that state that phytoestrogen in soy can lead to alterations in the proliferation and migration of intestinal cells. The effects of these alterations are unknown.[47] However, some studies conclude there are no adverse effects in human growth, development, or reproduction as a result of the consumption of soy-based infant formula.[48] Other reviews agree, but state that more research is needed to answer the question of what effect phytoestrogens have on infants. Soy formula has also been linked to autoimmune disorders of the thyroid gland.
About 8% of children in the
As a carcinogen
Fr: many resources..
Bahagia adalah kata yang hakikat maknanya selalu diimpikan setiap manusia. Segala cara ditempuh untuk mendapatkan kebahagiaan. Kata kebahagiaan sangat dekat artinya dengan kesenangan, tetapi sesuatu yang menyenangkan tidak serta-merta membuat seseorang bahagia.
Rasulullah SAW mencontohkan kepada umatnya untuk memohon agar Allah SWT melimpahkan kebaikan dan kebahagiaan hidup di dunia ini, lebih-lebih keselamatan dan kebahagiaan di akhirat. Beliau sering sekali memanjatkan doa yang mencakup segala aspek, hingga dikenal sebagai doa sapujagat. Doa itu adalah, Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina adzabannar.'' (QS al-Baqarah [2]:201)
Atas dasar itu, Ar-Raghib al-Ashfahani membagi kebahagiaan menjadi dua yakni kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan ukhrawi. Kebahagiaan duniawi mencakup umur panjang, kekayaan, dan kemuliaan. Sementara kebahagiaan ukhrawi mencakup takdir kekekalan, kekayaan tanpa kebutuhan, kemuliaan tanpa kehinaan, dan pengetahuan tanpa kebodohan.
Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT juga akan mengalami dua kehidupan, yaitu kehidupan dunia dan kehidupan di akhirat. Bila selamat dan bahagia di akhirat, maka itu adalah kesuksesan dan kebahagiaan abadi yang sejati. Namun bila sengsara dan celaka di akhirat, maka dia akan sangat merugi. Bahagia atau sengsara di negeri keabadian itu, sangat dipengaruhi amalan-amalan di dunia. Oleh sebab itu, Allah SWT dalam Surat al-Qashash ayat 77 memerintahkan orang-orang yang beriman untuk mencari kebahagiaan akhirat dengan tidak melupakan dunia.
Dalam Surat al-Mukminun ayat 1-9, dikemukakan sifat-sifat Mukmin yang akan meraih al-falah (kebahagiaan). Pertama, mereka khusyuk dalam shalat. Kedua, menunaikan zakat. Ketiga, menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia. Keempat, menjaga kemaluan dari hal yang diharamkan. Kelima, memelihara amanat dan janji. Keenam, memelihara shalat. Secara umum, yang termasuk orang-orang yang beruntung (bahagia), adalah orang-orang yang bertaubat dari sesuatu yang diharamkan dan dibenci Allah. Bersamaan dengan itu, mereka juga beriman dan selalu mengerjakan perbuatan yang disukai Allah SWT.
Sedang kesenangan duniawi, adalah berupa harta, tahta, perhiasan dari emas dan perak, dan sejenisnya. Kesenangan seperti ini, terlihat nyata dan menggiurkan, hingga melalaikan kebanyakan manusia. Padahal, kalau ajal sudah datang menjemput, setiap manusia harus bersiap diri memasuki alam akhirat. Tiada satu pun dari kesenangan dunia yang bisa dibawanya ke akhirat selain amalan-amalan baik.
Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang ditakdirkan Allah SWT lebih abadi dibanding kehidupan dunia. Satu hari di akhirat adalah seperti seribu tahun perhitungan waktu di dunia. Informasi soal ini bisa disimak dalam Surat al-Hajj ayat 47. Manusia yang rela mengorbankan kebahagiaan akhirat hanya untuk mendapatkan kesenangan dunia ini, adalah manusia yang mengalami kerugian sangat besar. Kita berlindung dari perbuatan seperti itu.
(Oleh : Sudiyo Abdurahman)
Ada sebuah hadis qudsi yang menyebutkan bahwa Allah enggan pada orang sabar. ''Apabila telah Kubebankan kemalangan (bencana) kepada hamba-Ku pada badannya, hartanya, atau anaknya, kemudian ia menerimanya dengan sabar yang sempurna, Aku merasa enggan menegakkan timbangan baginya pada hari kiamat atau membukakan buku catatan amalannya baginya.''
Dalam teks hadis dari HQR al-Qudha'i, ad-Dailami, dan al-Hakimut Turmudhi dari Anas ra itu disebutkan kata bi shobri jamili. Maksud Allah adalah kesabaran yang benar-benar tahan uji, tahan banting, tahan dari segala gempuran. Baik gempuran dari luar maupun gempuran yang berasal dari dalam diri kita.
Nafsu ingin berkuasa, misalnya, merampas hak atau harta orang lain, adalah bisikan jahat yang datang dari dalam diri. Pertahanan diri yang lemah, tidak sabar menahan bisikan jahat itu, akan mengantarkan kita melakukan tindakan jahat.
Belakangan ini kita bertubi-tubi tergempur oleh pukulan dari luar. Kenaikan harga dan kelangkaan BBM, keguncangan ekonomi, bencana alam, wabah penyakit, kecelakaan pesawat terbang, dan sebagainya, yang bisa mengakibatkan pertahanan diri menjadi lemah. Jerit tangis kelaparan, kesedihan, keluh-kesah, umpatan, bahkan caci-maki, bercampur-baur menjadi satu seakan tak ada lagi harapan hidup. Kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.
Menghadapi situasi semacam itu, Allah menawarkan resep pertahanan diri yang dulu juga diberikan kepada para nabi, yaitu sabar. Kedengarannya seperti khotbah klise, memang. Tapi, inilah tuntunan agama bagi orang-orang yang beriman.
Firman Allah, ''Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga serta bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.'' (QS 3: 200). Tiap kali Allah menyuruh, pasti disertai janji bagi siapa saja yang menjalankannya. Janji Allah dalam ayat itu adalah keberuntungan.
Begitu tinggi nilai kesabaran sampai-sampai Alquran menyebutnya 80 kali dalam berbagai macamnya. Salah satu di antaranya, ketika menghadapi kemiskinan, kecelakaan, wabah penyakit, kegagalan dalam usaha dan berbagai musibah lainnya, kita diperintahkan menempuh laku al shobru indal mushibah (sabar ketika ditimpa musibah).
Jangan dikira kesabaran hanya berlaku pada orang-orang menderita saja. Setiap makhluk selalu diuji untuk sabar. Seekor burung harus terbang menentang angin dan bermacam rintangan untuk mendapatkan makanan. Orang kaya diuji sabar mengelola hartanya, para pemberani diuji bertindak saja'ah, orang baik diuji untuk tasamuh kepada semua orang, dan sebagainya.
Kesabaran mustahil dilaksanakan tanpa energi keimanan. Sinergi kedua kekuatan Ilahiah itu yang akan menjadi pertahanan diri yang luar biasa hebat untuk menghadapi berbagai kesulitan hidup. Jika mengikuti perintah Allah, yakinlah Pencipta dan Pemilik Segala Energi itu tidak akan membiarkan kita lemah.
(Oleh : EH Kartanegara)